16 August 2007...2:29 pm

Merah Putih Di Dada …. Bukan Sok Nasionalis

Jump to Comments

Besok tanggal 17 Agustus 2007, adalah Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 62. Apa artinya? Artinya negara yang proklamasinya dibacakan oleh Soekarno dan naskahnya ditandatangani bersama dengan Hatta ini sudah berumur 62 tahun. Negara ini lahir disekitar PD II hampir bersamaan dengan banyak bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.

+++++

Mengingat kembali kira-kira 32 tahun lalu, 2 tahun sebelum saya masuk sekolah dasar, di kampung saya dilahirkan, lebih 300 km dari Makassar, saya menyaksikan seorang kepala desa yang waktu itu disegani, memandori pembangunan sebuah pintu gerbang di mulut jalan. Bangunan terbuat bambu yang dirakit sedemikian rupa tersebut sangat indah, diperindah dengan bahan yang umumnya diambil dari sekitar kampung saya. Ditengahnya ditulis dengan cat merah didasar putih oleh seorang staff kantor desa juga dengan teliti dan indah. “HARLAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI YANG KE XXVII”. Saya yang waktu itu belum sekolah, tidak mengerti makna kata HARLAH juga tidak mengerti angka rumawi yang demikian panjang itu. Tapi saya bisa menikmati bagaimana gerbang itu dihiasi bendera dari kertas dan bisa bertahan hampir sebulan. Sebuah kebersamaan para warga desa saya atas pimpinan sang kepala yang dihormati.

Di setiap tahun, di bulan Agustus seperti itu, acara gerak jalan dengan berbagai macam kostum rancangan sendiri dilakukan. Barisan terbaik dengan kostum terbaik akan mendapat juara, entah apa hadiahnya. Seringkali kami harus berdesakan hanya untuk melihat bagaimana barisan-barisan itu lewat, apalagi kalau itu berasal dari sekolah favorit. Acara menari, baca puisi dan drama sebabak, dipentaskan dimalam hari, dengan penerangan lampu petromak seadanya. Setahu saya, itulah hiburan rutin yang ada setiap tahunnya.

TAHUN 1979, ketika saya sudah kelas V SD, untuk pertamakalinya saya masuk dalam barisan upacara peringatan proklamasi. Semua perwakilan SD se kecamatan hadir dalam upacara tingkat kecamatan yang dipusatkan di sebuah tempat, bukan di ibukota kecamatan, tapi disebuah lapangan sepak bola kampung. Kami “tidur” di rumah-rumah penduduk sehari menjelang hari upacara. Sudah seminggu acara “rutin” gerak jalan, pementasan drama, dll berlangsung. Tapi saya hanya diikutkan untuk upacara. Pak Camat menjadi Inspektur dan seorang polisi yang saya tidak tau pangkatnya, memimpin barisan dengan gagah. Sebagai hiburan, tarian massal (tari menjerak burung) digelar setelah upacara berakhir. Sekedar hiburan ringan dibawah panas terik. Bagi saya, 17 Agustus adalah tempat dimana kami bisa menunjukkan kebolehan dalam drama, sajak, nyanyi rombongan atau solo, dan melawak. Bagi yang terpilih (karena badannya yang besar) bisa berkali-kali ikut upacara bendera dan berdiri di barisan depan, atau ikut lomba baris berbaris. Saya biasanya harus puas dibarisan belakang.

Agustus 1986 adalah saat terakhir saya mengikuti upacara bendera, karena kebetulan waktunya bersamaan dengan penataran P4 bagi mahasiswa baru. Mahasiswa yang jadi aktifis di extra kampus seperti saya relatif tidak mempunyai tempat dalam upacara 17 Agustus tahun-tahun berikutnya. Bekerja sebagai aktifis LSM lebih menjauhkan lagi dari kegiatan seperti itu. Bagi orang seperti saya, 17 Agustus tidak lagi berarti. Dia berlalu bergitu saja., dari tahun ke tahun. Saya tidak tahu, apakah saya masih bisa hapal Pancasila, Pembukaan UUD 45 atau bahkan Indonesia Raya yang sekarang diperdebatkan keasliannya. Tapi ke Indonesiaan saya tetap utuh. Kecintaan saya terhadap negeri ini masih tetap besar. Saya tetaplah anak bangsa ini, sejelek apapun pengelolaannya, seburuk apapun pejabatnya.

++++++

2 bulan yang lalu, ketika saya mendapati anak pertama saya yang baru naik kelas VI SD agak “lambat” dalam beberapa mata pelajaran yang menurut gurunya “pokok”, saya memutuskan untuk mengajak dia ikut Bimbingan Belajar. Tapi saya kaget ketika dia membuat tawaran. Dia bersedia ikut Bimbel, dengan catatan, waktunya harus setelah 17 Agustus. Saya tanya kenapa harus menunggu selesai 17 Agustus? “nanti saya tidak bisa ikut lomba dan bertanding:” Begitu jawabnya. Memang kompleks perumahan dimana sekeluarga tinggal selalu membuat kegiatan bagi anak-anak setiap tahun.. Saya berdamai. Dia tetap ikut bimbel tapi bisa ‘libur” kalau ada jadwal lomba dan tanding di pemukiman atau di sekolah. Bagi anak saya, 17 Agustus sangat penting. Dia dan teman-temannya bisa menunjukkan kebolehan main sepak bola, lari kelereng, lomba sepeda hias (yang hiasannya dibuatkan oleh orang tua), memasukkan pinsil ke botol, dll. Bahkan di acara resepsi, mereka bisa menunjukkan “keahliannya main band dan menyanyi”, meski tidak enak di dengar, tepuk tangan tetap milik mereka.

Pagi ini saya membaca, para pejabat disebuah kabupaten menampilkan foto-foto mereka di satu halaman penuh surat kabar lokal terbesar di Intim ketika mereka merayakan 17 Agustusan dengan lomba naik sepeda pakai daster (mudah-mudahan daster istrinya), lari karung, dll. Biayanya memajangnya pasti mahal.

Melalui “Om Google”, saya coba lihat ada apa disana, berkaitan dengan “Independence Day of Indonesia”. Banyak sekali informasi dan berita mengenai kegiatan-kegiatan unik yang dilakukan oleh warga Indonesia bahkan asing untuk 17 Agustus kali ini. Apa yang dilakukan oleh pejabat kabupaten tersebut diatas, berlangsung di seluruh wilayah negeri ini.

Bagi anak saya, para pejabat daerah dan mungkin orang asing yang ada di Indonesia, 17 Agustus adalah lomba, tempat dimana para pejabat melakukan hal-hal yang lucu, lalu semua orang bertepuk tangan. Setelah itu selesai. Tunggu 17 Agustus tahun berikutnya.

umbul-umbul_3.jpg  dsc02811.jpg

Pagi ini, di jalan yang tiap hari saya lewati menuju kantor, sebagian jalanan dialihkan. Anak SD kembali melakukan gerak jalan. Bapak dan ibu guru termasuk orang tua sibuk mengatur mereka. Supaya barisannya tetap lurus, indah dipandang. Pak Polisi pun sibuk mengatur. Mereka melewati jalan protokol. Baju mereka baru-baru. Wajah mereka sedikit etih, pasti bukan karena gerak jalan pagi ini, tapi karena mereka sudah latihan berhari-hari yang lalu.

++++++

Tidak banyak yang berubah dari saya kecil. Yang berubah adalah, kegiatan mulai merambah tidak saja dalam lingkungan sekolah tapi juga di kompleks-kompleks perumahan, di kantor-kantor swasta dan pemerintahan di semua level. Di hotel-hotel berbintang. kantor-kantor dihiasi dengan ornamen merah putih di segala sudut, di depan lorong, di pintu gergang kantor, gapura baru dipasang, dengan bahan yang sudah pasti lebih bagus. Gapura diperlombakan. Barisan diperlombakan. Di ruangan loby hotel diperdengarkan “lagu-lagu perjuangan”. Ibu rumah tangga tidak perlu sibuk menjahit sendiri bendera. Mereka sudah bisa mendapatkan di pinggir jalan. Berbagai ukuran dan bentuk ada. Bambu untuk memasangnya pun siap sedia. Tinggal siapkan uang.  Ini bisnis musiman baru menjelang 17 Agustusan.

Kantor tempat saya bekerja yang bertempat disebuah hotel, yang pegawainya setengahnya orang Jepang juga di undang oleh pihak Hotel untuk acara resepsi, dan barbeqiu, bukan upacara bendera.

++++++

independence-day1.jpg

Tahun 2006 yang lalu, bulan Agustus, saya berada di India, disebuah negara bagian, Andhra Pradesh. 15 Agustus adalah Hari Kemerdekaan India. Mereka merdeka dari Inggris tahun 1947.  ”Independence Day” adalah hari libur. Mereka menggunakan pakaian putih terusan, khususnya laki-laki, sepertinya itu adalah pakaian nasional. Semua hampir sama. Di koran-koran terlihat para pejabat pun berpakaian dengan model yang sama. Pakain baru atau pakai tua, dibagian saku sebelah kiri, dipasang bendera kecil dari kertas, bendera India. Hampir semua orang memakai bendera yang sama. Dengan senyum, mereka saling memberi salam sambil mengucapkan “Happy Independence Day”. Saya tidak menemukan anak sekolah baris berbaris. Pun tidak ada gapura yang dibangun dilorong-lorong dengan biaya mahal, tidak ada umbul-umbul berbagai warna di sepanjang jalan.  Juga tidak ada berbagai macam bentuk bendera dan simbol India di gedung-gedung pemerintahan. Tapi di saku sebelah kiri hampir semua orang, terpasang bendera kecil, lalu semua orang saling menjabat tangan, memberi salam dan mengucapkan “Selamat Hari kemerdekaan”.  Foto sang Pendiri dan Bapak Bangsa “Mahatma Gandhi” dan “Jawaharlal Nehru” bertebaran dimana-mana dalam berbagai ukuran.

Pagi ini, saya membaca di Internet, bahwa hari kemerdekaan India tahun ini, kemarin dirayakan dengan upacara penaikan bendera dan kegiatan-kegiatan budaya di ibukota negara. Perdana menteri memberikan pidato di depan Red Fort di Delhi. Di semua kota acara serupa dilaksanakan pula oleh para politisi bersama dengan konstituennya.

Di berbagai perusahaan swasta pun begitu. Di sekolah-sekolah dan universitas tidak ada kegiatan akaddemik. Tetapi semua murid dan mahasiswa, dosen hadir bersama-sama untuk sebuah acara penaikan bendera. Setelah itu, berbagai macam kegiatan budaya dilaksanakan dan biasanya berlangsung sampai malam. TV pun menayangkan berbagai macam acara untuk mengingatkan kembali bagaimana kondisi yang dihadapi ketika perlawanan kemerdekaan.

Di internet pula saya menemukan fasilitas yang menawarkan bagi orang yang ingin mengucapkan selamat kepada teman, sahabat, kerabat, kolega, foto-foto yang berkaitan dengan kemerdekaan (umumnya foto-foto Gandhi dan Nehru), hadiah-hadiah seperti kue, bunga atau kartu-kartu ucapan selamat. Masyarakat bisa menggunakan internet untuk memesan kartu, kue dan bunga untuk ucapan selamat. Itulah cara mereka untuk saling memberi salam, tentu selain jabat tangan langsung.

++++++++

Besok adalah 17 Agustus. Selayaknya hari itu bukanlah sekeder “Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan”, bukan juga sekedar “17 Agustusan” yang penuh dengan lomba-lomba dan upacara bendera. Tapi itu adalah HARI KEMERDEKAAN, sebuah INDEPENDENCE DAY. Mari saling memberi selamat. Mari memasang bendera kecil di dada sebelah kiri.

SELAMAT HARI KEMERDEKAAN

Leave a Reply